Catatan Perjalanan 850 Km_Gowes Jurnalistik: Pantau Jalur Mudik 2011
@}ray • 6 jam yang lalu • 4 komentar di Kategori: Umum
Gowes 850 Km, Sampai Juga ke Surabaya
Hery Prasetyo | Sabtu, 23 Juli 2011 | 01:40 WIB
SURABAYA, KOMPAS.com — Tim Gowes Jurnalistik: Pantau Jalur Mudik 2011 akhirnya sampai juga ke Surabaya, tujuan terakhir dalam bersepeda dari Jakarta. Tepat pukul 15.00 WIB, Jumat (22/7/2011), lima penggowes masuk Garden Palace Hotel, tempat menginap.
Dua pembalap yang mengikuti ekspedisi ini, Devino Oktavianus dan Marta Murfeni, juga penggowes dari komunitas sepeda Semarang, Lioe Irwan, langsung menyalami Kompas.com. Mereka menilai perjalanan ini sukses, baik dari segi tur bersepeda, maupun tugas jurnalistik.
"Wah, selamat. Ini tur yang sukses. Semua etape dijalani dengan baik dan setiap hari semakin baik," kata Marta Murfeni.
"Saya kira ini tur yang sukses, tak ada kendala yang berarti. Kekuatan para penggowes juga semakin baik, dan tugas-tugas jurnalistik yang dilakukan wartawan Kompas.com cukup memuaskan. Saya malah baru kali ini tahu kegiatan menggowes sambil meliput berita," tambah Devino yang pernah sendirian bersepeda dari Jakarta ke Sabang, Aceh.
Gowes Jurnalistik dimulai pada 15 Juli dengan start dari depan Kantor Kompas Gramedia, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta. Etape pertama sampai Pamanukan, kemudian ke Pekalongan, Cirebon, Semarang, Solo, Ngawi, Jombang, dan terakhir Surabaya. Sebelumnya, tim Gowes Jurnalistik juga melakukan survei sepanjang jalur utara dari Jakarta ke Semarang, Demak, Kudus, Tuban, Gresik, dan Surabaya. Pulangnya melewati Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Solo, Yogyakarta, Tasikmalaya, Bandung, dan kembali ke Jakarta.
Secara total, tim bersepeda menempuh perjalanan sepanjang 850 kilometer. Rata-rata, setiap etape, tim menempuh jarak 112 kilometer.
"Lihat saja hasilnya. Semula kita sampai ke tempat tujuan malam hari, kemudian makin hari makin cepat. Ini terutama dari Pekalongan ke Semarang mulai masuk hotel sore pukul 17.00, kemudian lebih cepat dan lebih cepat. Artinya, tenaga dan stamina penggowes justru lebih kuat," ungkap Devino.
Gowes Jurnalistik ini memang menjadi brand Kompas.com untuk melakukan peliputan unik, sekaligus mengampanyekan penggunaan sepeda yang ramah lingkungan dan bergaya hidup sehat. Direncanakan, kegiatan-kegiatan lain akan dilakukan dengan tema berbeda.
http://lipsus.kompas.com/gowesmudik2011
Senina ras Turang Penikmat Sepeda, i ja pe kam ringan. I jenda kita pulung mejuahjuah nuriken kenikmaten ergereta angin guna kesehaten murah meriah. Bujur
Wednesday, 17 August 2011
Tuesday, 16 August 2011
HUT Kemerdekaan RI ke 66
Dirgahayu Indonesia
Kelap kelip kali ini di bulan Agustus, di bulan puasa pula. Bulan yang penuh berkat. Begitu sampai di Thamrin, kemacatan telah menghadang. Pada hal dari Tugu Proklamasi awal mulai bergerak sepeda lancar lancar saja. Memang hari kerja yakni Jumat tgl. 19 .Merayap di sela sela mobil sampai juga di Rumah Sepeda.
Disambut ramah, air mineral melimpah dan setiap peserta Kelap Kelip satu kotak nasi ayam empuk, enak lagi, dibagikan. Disuguhi filem Serikandi Sepedaan Jakarta Jepara. Dua srikandi itu hadir pula, cantik dn ceria, tepatnya fisik bagus binaan sepeda.
Bagi saya pribadi, ketemu Om Tekat di dunia nyata. Mudah mudahan saya tidak salah. Di benak saya om ini berperawakan kecil lincah kulit kehitaman raut muka ceria. Pasalnya cuma ketemu di group B2W melalui respon nya di sana. Jebulan nya kuli putih bersih, perawakan manager, sikap formal dan dikawal gadis cantik seperti dalam foto. Terkesima saya. Tak sempat tanya, hanya salaman saja.
Rumah sepeda sekarang ada jasa peminjaman sepeda. dipatok 50 ribu untuk pemakaian 12 jam. Wou , alangkah indahnya libur di kota tujuan bila jasa peminjaman sepeda tersedia. Apalagi ada potongan harga bagi anggota B2W ?. Ramai dah. Ha ha hi hi...
Lewat pukul sepuluh malam acara selesai. Keluar dari rumah sepeda langsung merayap lagi di sela sela mobil sampai di Subroto. Sampai juga di Duren Sawit dengan selamat.
Dame Munthe 20 Agustus 2011
Monday, 15 August 2011
Jakarta - Jambi - Aceh Sepedaan
Mahasiswa Bandung Ini Mudik ke Jambi Bersepeda Fixie
@}ray • 1 jam yang lalu • 3 komentar di Kategori: Umum
Mahasiswa Bandung Ini Mudik ke Jambi Bersepeda
Senin, 15 Agustus 2011 | 11:36 WIB
TEMPO Interaktif, Bandung - Seorang mahasiswa Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Aji Ekasapta, 22 tahun, memilih mudik Lebaran dengan naik sepeda fixed gear atau fixie ke Jambi. Perjalanan yang dimulai pada Ahad kemarin itu akan menempuh jarak 1.200 kilometer atau selama sembilan hari.
Menurut Aji, perjalanan mudiknya dengan sepeda itu dilakukan selepas subuh hingga pukul 17.00 WIB. Waktu malam dipakai untuk rehat. "Istirahatnya menumpang di rumah anggota komunitas sepeda di kota yang disinggahi," katanya saat dihubungi Tempo, Senin, 15 Agustus 2011.
Hari ini Aji sudah berada di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Rute yang diambilnya melalui Jakarta, Merak, Lampung, Tulang Bawang, Kayuagung, Palembang, kemudian Jambi. Sepanjang perjalanan, teman-teman kampus dan komunitas sepeda mengawalnya bergantian dengan mobil. "Ini bukan untuk memecahkan atau mencatatkan rekor, tapi untuk kesenangan pribadi," ujarnya.
Sebelumnya, pada Januari 2011, ia telah menjajal bersepeda ke Pulau Komodo dari tempat kosnya di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Jarak sejauh 1.800 kilometer itu ditempuhnya selama 18 hari. Setelah itu Aji makin keranjingan dan hingga kini memilih mudik dengan kereta angin. "Sekalian pulang kampung. Saya sebagai warga ingin memberikan sesuatu ke Kota Jambi," katanya.
Ia mengaku tidak dilarang orang tuanya yang sedang menunggu kepulangannya di Kecamatan Telanaipura, Jambi. Sejauh ini tidak ada masalah seperti rantai rusak atau ban bocor dalam perjalanan jauhnya itu. Rencananya setelah Lebaran nanti kakinya akan mengayuh pedal dari Jambi ke Aceh.
ANWAR SISWADI
http://tempointeraktif.com/hg/hobi/2011/08/15/brk,20110815-351847,id.html
HUT Kemerdekaan
Hai Rekan-Rekan yang dibanggakan,
Gempita Hari Kemerdekaan layak kita sambut dengan riang gembira, salah satunya adalah dengan sebuah acara yang kita kenal dengan Kelap-Kelips. Kelap-Kelips kali ini bertemakan "RAMADAN KEMERDEKAAN", karena itu mari kita rayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini dengan suasana yang lain daripada sebelumnya. Dalam acara Kelap-Kelips 18 yang akan dilaksanakan pada Tanggal 19 Agustus 2011 berlokasi di Tugu Proklamasi, Pegangsaan, Jakarta, para pesepeda akan melakukan pembagian tajil yang telah disediakan oleh panitia. Selanjutnya kita akan melakukan perjalanan bersepeda malam bersama menuju Rumah Sepeda untuk mengikuti pembukaan fasilitas penyewaan sepeda dan selain itu acara dilanjutkan dengan Sahur On Road untuk membagikan santap sahur.
Yuuk kita berkumpul bersama di Tugu Proklamasi, Jakarta. Tanggal 19 Agustus 2011, setelah berbuka bersama akan dilakukan kampanye bersepeda menuju Rumah Sepeda Indonesia, berangkat pukul 19.00 WIB dan jangan lewatkan kesempatan pembagian dorprize dan pembukaan penyewaan sepeda. Jangan lupa pasang lampu-lampu isyarat di sepeda untuk meriahkan malam Kelap-Kelips, tak lupa kenakan pelindung kepala. Ditunggu yah kehadirannya, oh ya ini GRATIS alias tidak dipungut biaya sama sekali.
Wednesday, 10 August 2011
Sepeda Tanpa "Masa Depan"
Harian Kompas, Senin 1 Agustus
2011 menurunkan headline yang cukup menyengat dengan tajuk “Kota Tanpa “Masa
Depanâ€â€. Sebuah sajian tulisan yang cukup menyentil di awal bulan puasa ini.
Isinya mulai dari
segala macam data-data statistik dan berikut tata kelola wilayah yang acak
adut. Coba lihat di gambar peta Jakarta yang sudah dikelilingi oleh sekitar
25 cluster
“kota†baru di timur, barat, selatan dan sekitarnya. Problem lain yang cukup
pelik adalah tidak jelasnya kerangka pengembangan sistem transportasi
publik.
Lengkap sudah potret muram Jakarta yang semakin hari tambah semrawut.
Membaca berita tajuk utama
tersebut, saya terusik untuk melihatnya dari sudut pandang lain. Dari sisi
transportasi tentunya, yaitu kampanye
bersepeda ke tempat kerja, khususnya bagi mereka yang bekerja di kota
Jakarta.
Di tengah kesemrawutan transportasi publik dan kemacetan “pamer paha†(padat
merayap tanpa harapan) setiap hari, opsi bersepeda ke kantor atau aktivitas
lain masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang dan bukan sebagai
solusi
praktis yang punya multi manfaat.
Saya tidak mau berargumen panjang
lebar untuk meyakinkan mereka mulai bersepeda, toh kenyataannya semakin
banyak
warga Jakarta sudah jenuh dengan kemacetan menggila yang membuat kota ini
memang sudah jadi kota tanpa “masa depanâ€. Lantas, kalau sudah begitu apakah
ada solusi jitu dalam menyikapi soal kemacetan tadi ? Tentu ada. Dan jawaban
out-of-the-box-nya adalah niat dan kemauan untuk olah dengkul sekaligus
olahraga menggenjot sepeda ke tempat kerja.
Peta Jakarta sendiri terlihat
dikerubuti oleh lingkaran-lingkaran cluster kecil dan besar berupa
lingkungan
perumahan mulai dari yang skala bawah, menengah sampai atas. Coba bayangkan
kalau di hari kerja jalan-jalan protokol ibukota bisa diramaikan oleh
pesepeda
yang datang dari lingkaran-lingkaran kecil dan besar tersebut menuju tempat
kerjanya masing-masing di
berbagai wilayah di Jakarta. Ada banyak unsur positif yang bisa diambil dari
fenomena tersebut. Penghematan sudah jelas, kesehatan lebih baik, senang ya
pasti
karena banyak teman. Kalau sudah begitu, halangan untuk bersepeda ke tempat
kerja rasanya bukan hal yang mustahil untuk diatasi, walaupun membutuhkan
waktu
dan kiat tertentu.
Tetangga sekomplek saya pernah
berujar,â€Lalu lintas di Jakarta memang benar-benar edan, untuk jarak pendek
di
bawah 10km saja butuh waktu tempuh lebih dari 1 jam, apalagi kalau turun
hujan.†Itu
ungkapan yang ia ucapkan sekitar 2 tahun yang lalu dan selama 2 tahun itu
pula
saya dengan sabar memprovokasinya untuk mencoba mengambil alternatif
bersepeda
ke tempat kerja. Kadang-kadang saya hanya secara pasif pamer bersepeda saja
di
depan rumahnya sekedar mengingatkan, ini lho naik sepeda itu enak.
Kejutannya adalah awal bulan Juli
lalu, ia berhasil membeli sebuah sepeda lipat yang mumpuni, atas hasil tanya
sini tanya sana ke beberapa rekan. “Disambi dengan commuter line dululah,â€
katanya sambil
cengengesan. Ternyata tidak percuma hasil provokasi saya selama 2 tahun
belakangan ini. Dia juga berhasil mengatasi halangan yang selama ini selalu
dijadikan alasan dan memberatkannya untuk bersepeda ke tempat kerja. Tempat
mandi di kantor sudah tidak jadi masalah. Mobilisasinya juga lancar karena
ia
menitipkan mobilnya di kantor yang hanya dipergunakan kalau ada janji dengan
client di luar kantor atau kegiatan sales. Pada akhir minggu, mobil ia bawa
pulang dan sepeda lipat dimasukkan ke dalam bagasi. Praktis sudah
terpecahkan
keluhannya tentang kemacetan di kota yang katanya tanpa “masa depanâ€.
Nah, terbayang kan kalau ada
seribu saja orang seperti tetangga saya yang berbuat hal yang serupa. Angka
tersebut
idealnya harus terus bermultiplikasi sesuai dengan berjalannya waktu.
Sebagian
orang masih saja menggerutu kesal tak berdaya menghadapi kemacetan parah
sehari-hari. Namun di sisi lain, ada sebagian orang yang melihat celah
dengan
bertindak keluar dari comfort zone
dan mengayuh sepedanya ke tempat kerja ke kota yang katanya tanpa “masa
depanâ€.
Sebuah tindakan positif penuh masa depan yang cerah dan patut diacungi
jempol.
Bagaimana menurut
anda ?
Ivan
2011 menurunkan headline yang cukup menyengat dengan tajuk “Kota Tanpa “Masa
Depanâ€â€. Sebuah sajian tulisan yang cukup menyentil di awal bulan puasa ini.
Isinya mulai dari
segala macam data-data statistik dan berikut tata kelola wilayah yang acak
adut. Coba lihat di gambar peta Jakarta yang sudah dikelilingi oleh sekitar
25 cluster
“kota†baru di timur, barat, selatan dan sekitarnya. Problem lain yang cukup
pelik adalah tidak jelasnya kerangka pengembangan sistem transportasi
publik.
Lengkap sudah potret muram Jakarta yang semakin hari tambah semrawut.
Membaca berita tajuk utama
tersebut, saya terusik untuk melihatnya dari sudut pandang lain. Dari sisi
transportasi tentunya, yaitu kampanye
bersepeda ke tempat kerja, khususnya bagi mereka yang bekerja di kota
Jakarta.
Di tengah kesemrawutan transportasi publik dan kemacetan “pamer paha†(padat
merayap tanpa harapan) setiap hari, opsi bersepeda ke kantor atau aktivitas
lain masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang dan bukan sebagai
solusi
praktis yang punya multi manfaat.
Saya tidak mau berargumen panjang
lebar untuk meyakinkan mereka mulai bersepeda, toh kenyataannya semakin
banyak
warga Jakarta sudah jenuh dengan kemacetan menggila yang membuat kota ini
memang sudah jadi kota tanpa “masa depanâ€. Lantas, kalau sudah begitu apakah
ada solusi jitu dalam menyikapi soal kemacetan tadi ? Tentu ada. Dan jawaban
out-of-the-box-nya adalah niat dan kemauan untuk olah dengkul sekaligus
olahraga menggenjot sepeda ke tempat kerja.
Peta Jakarta sendiri terlihat
dikerubuti oleh lingkaran-lingkaran cluster kecil dan besar berupa
lingkungan
perumahan mulai dari yang skala bawah, menengah sampai atas. Coba bayangkan
kalau di hari kerja jalan-jalan protokol ibukota bisa diramaikan oleh
pesepeda
yang datang dari lingkaran-lingkaran kecil dan besar tersebut menuju tempat
kerjanya masing-masing di
berbagai wilayah di Jakarta. Ada banyak unsur positif yang bisa diambil dari
fenomena tersebut. Penghematan sudah jelas, kesehatan lebih baik, senang ya
pasti
karena banyak teman. Kalau sudah begitu, halangan untuk bersepeda ke tempat
kerja rasanya bukan hal yang mustahil untuk diatasi, walaupun membutuhkan
waktu
dan kiat tertentu.
Tetangga sekomplek saya pernah
berujar,â€Lalu lintas di Jakarta memang benar-benar edan, untuk jarak pendek
di
bawah 10km saja butuh waktu tempuh lebih dari 1 jam, apalagi kalau turun
hujan.†Itu
ungkapan yang ia ucapkan sekitar 2 tahun yang lalu dan selama 2 tahun itu
pula
saya dengan sabar memprovokasinya untuk mencoba mengambil alternatif
bersepeda
ke tempat kerja. Kadang-kadang saya hanya secara pasif pamer bersepeda saja
di
depan rumahnya sekedar mengingatkan, ini lho naik sepeda itu enak.
Kejutannya adalah awal bulan Juli
lalu, ia berhasil membeli sebuah sepeda lipat yang mumpuni, atas hasil tanya
sini tanya sana ke beberapa rekan. “Disambi dengan commuter line dululah,â€
katanya sambil
cengengesan. Ternyata tidak percuma hasil provokasi saya selama 2 tahun
belakangan ini. Dia juga berhasil mengatasi halangan yang selama ini selalu
dijadikan alasan dan memberatkannya untuk bersepeda ke tempat kerja. Tempat
mandi di kantor sudah tidak jadi masalah. Mobilisasinya juga lancar karena
ia
menitipkan mobilnya di kantor yang hanya dipergunakan kalau ada janji dengan
client di luar kantor atau kegiatan sales. Pada akhir minggu, mobil ia bawa
pulang dan sepeda lipat dimasukkan ke dalam bagasi. Praktis sudah
terpecahkan
keluhannya tentang kemacetan di kota yang katanya tanpa “masa depanâ€.
Nah, terbayang kan kalau ada
seribu saja orang seperti tetangga saya yang berbuat hal yang serupa. Angka
tersebut
idealnya harus terus bermultiplikasi sesuai dengan berjalannya waktu.
Sebagian
orang masih saja menggerutu kesal tak berdaya menghadapi kemacetan parah
sehari-hari. Namun di sisi lain, ada sebagian orang yang melihat celah
dengan
bertindak keluar dari comfort zone
dan mengayuh sepedanya ke tempat kerja ke kota yang katanya tanpa “masa
depanâ€.
Sebuah tindakan positif penuh masa depan yang cerah dan patut diacungi
jempol.
Bagaimana menurut
anda ?
Ivan
Sunday, 31 July 2011
Saturday, 30 July 2011
Lansia Suka Sepedaan
Ane mau ke Monas pagi buta begini sama bini, ada yang pingin kenalan yang lebih lansia dari ane. Katanya dia bawa bini. Ane tak mau kalah. Bawa bini juga. Dan sayangnya mereka itu bawa sepeda dan ane tak berani bawa sepeda, takut istri kepeleset di jalan. Jadi jalan kaki saja sambil gandengan tangan sekalian ngingatin jalan sepanjang kenangan. Dari parkir Gambir ke Monas. Jalan kenangannya pendek saja Gan. Ha ha hi hi, pagi sukses buat semua yang sudah bangun maupun masih di peraduan teriring mimpi indah. Salam canda.

Dan inilah dia yang ketemu di Monas itu

Bambang Gunawan (67) beserta istri. Munthe (65) dengan bini, keranjingan sepeda.

Seli om Bambang Gunawan dan istri





http://b2w-indonesia.or.id/grup/bikelansia
Last edited by d.gt.munthe; Today at 12:35 PM..
Dan inilah dia yang ketemu di Monas itu
Bambang Gunawan (67) beserta istri. Munthe (65) dengan bini, keranjingan sepeda.
Seli om Bambang Gunawan dan istri
http://b2w-indonesia.or.id/grup/bikelansia
Last edited by d.gt.munthe; Today at 12:35 PM..
Subscribe to:
Posts (Atom)


















